MASELA dan Marsela dua nama yang mempertentangkan nama sebuah pulau di Kecamatan Babar Timur Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang berpenduduk 2279 jiwa yang pada saat dilanda kekeringan, kelaparan, ketertinggalan, mengingat bahkan menyebut nama pulaunya saja hampir terlupakan.
Saat dalam keadaan dilanda pengelolaan sumber gas alam yang akan dieksplorasi 2016 menjadi sumber rebutan khusus Participating Interest (PI) 10 persen.
Bersamaan itu pula, orang mempersoalkan nama Pulau Masela dan Marsela. Dari penelusuran sejarahnya, Masela adalah nama pulau sesuai nama nahkoda kapal layar yang menyinggahi pulau yaitu “Masela”.Sedangkan Marsela adalah nama negeri Mutel yang diganti oleh Belanda dengan nama Marsela yaitu negeri yang ada di Pulau Masela.
Orang mendengar Pulau Masela sebagai pulau yang secara geografis terletak di Kecamatan Babar Timur Kabupaten MBD yang memiliki batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan Pulau Dawelor, sebelah timur berbatasan dengan laut Tanimbar dan sebelah selatan berbatasan dengan laut Australia dan sebelah barat berbatasan dengan Pulau Babar dan termasuk gugusan Pulau-Pulau Barat Daya atau disebut pulau terselatan.
Pada mulanya, Pulau Masela merupakan bagian dari Kecamatan Pulau-Pulau Babar dengan ibukota Tepa, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra). Tetapi perjalanan kabupaten ini dimekarkan menjadi Kabupaten Malra dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) dimekarkan lagi menjadi Kabupaten MBD sesuai dengan UU No 31 tahun 2008.
Seiring dengan pemekaran Kabupaten MBD maka terjadi pula pemekaran kecamatan yang ada sehingga saat ini terdapat kecamatan yaitu, Kecamatan Moa Lakor, Kecamatan Damer, Kecamatan Mdona Hyera, Kecamatan Pulau-Pulau Babar, Kecamatan Babar Timur, Kecamatan Wetar, Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan dan Kecamatan Leti.
Pulau Masela semula masuk dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Pulau-Pulau Babar, sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan Babar Timur dan sementara dalam penataan untuk diterapkan sebagai kecamatan yang difinitif dengan 11 desa serta 1 dusun.
Dengan jumlah penduduk 2279 jiwa, sudah saatnya Pulau Masela dapat dimekarkan menjadi kecamatan tersendiri demi memudahkan pelayanan publik, karena letak/jarak antar desa-desa yang ada di Pulau Masela dengan ibukota kecamatan (Letwurung) dapat ditempuh dengan menyeberangi laut kurang dari dua jam dan jika cuaca tidak baik sangat menghambat jalannya pelayanan pada masyarakat.
PRO KONTRA MASELA DAN MARSELA
PULAU Masela sejak dahulu kala kurang mendapat perhatian karena keterisolasian dan letaknya yang berada sebagai salah satu pulau terdepan karena berbatasan dengan benua Australia, tetapi karena potensi sumber daya alam (darat) yang berbatu dan kering serta masyarakatnya yang selalu mengalami kekeringan dan kelaparan akibat gagal panen dan jarang sekali menjadi sumber informasi masyarakat, bahkan tidak jarang sering dijadikan tempat untuk memindahkan guru-guru yang kurang disiplin sebagai bentuk pembinaan.
Karena keterisolasian diatas, turut mempengauhi istilah/nama pulau yang ada saat itu tidak dipermasalahkan atau dipertentangkan khsusus dalam lingkup masyarakat di Pulau Masela maupun dalam lingkup pemerintahan. Tetapi sekarang dengan ditemukannya sumber gas alam diperairan laut lepas pantai yang terkenal dengan nama Blok Masela hampir setiap hari menjadi pembicaraan hangat dikalangan masyarakat maupun melalui media penyiaran pusat dan daerah serta media cetak. Terkait dengan itu, diantara masyarakat di Pulau Masela dan Marsela mulai mempertentangkan soal nama Masela dan Marsela dengan alasan dan pertimbangan masing-masing.
YANG PRO MENGGUNAKAN NAMA MASELA
Penggunaan nama Masela didasarkan pada peristiwa masa lalu yang oleh salah satu tokoh masyarakat Desa Lawawang yang bernama Aris Tiwery menjelaskan, pada abad XVII sebuah kapal layar yang dinagkodai Masela melayari laut Arafura tujuan ke Kepulauan Tanimbar. Kapal layar itu jauh dari pesisir pantai pulau tak bernama yang saat itu dikuasai tiga raja yaitu Ujung Utara Pulau dikuasai Raja Tumela dengan pusat pemerintahan di Pesul Walkey. Tengah Pulau dikuasai Raja Reheyara (Zenna) dengan pusat pemerintahan di Leray dan ujung selatan pulau dikuasai Raja Ziwtyer dengan pusat pemerintahan di Lektay.
Ketika kapal layar hendak melewati pulau, dengan kekuatan gaib (melalui pantun adat/nyerulora) raja Reheyara/Zenna memanggil dan membelokan sauh di Pelabuhan Nomlely. Raja Tumela menyambut nahkoda kapal layar di pesisir pantai dan menyebut diri sebagai penguasa pulau. Nahoda Masela menggelengkan kepala sambil menunjuk ke puncak gunung Leray bahwa ada penguasa pulau akhirnya Rehyara /Zenna ditandu turun gunung menemui nahkoda Masela.
Raja Tumela tetap ngotot sebagai penguasa pulau, akhirnya disepakati raja pertaruhan berdasarkan tradisi/adat dan akhirnya raja Tumela meregang nyawa sebagai bukti bukan penguasa pulau. Pada saat itulah, nahkosa Masela dan raja Rehyara/Zenna mengangkat persahabatan dengan pertukaran cendera mata. Masela menyerahkan satu tongkat emas, bendera dan batu yang bertuliskan VOC sedangkan raja Rehyara/Zenna memberian alat tumbuk sirih (kopkopla). Sebelum berangkat melanjutkan pelayaran ke Kepulauan Tanimbar, nahkoda kapal layar memberi nama bagi pulau yang tak bernama itu sesuai namanya “MASELA”.
Kemudian pada awal abad ke XX, tepatnya pada tahun 1916, terjadi peristiwa Otkuky, mendorong penguasa menata pemerintahan dengan mewajibkan bagi setiap pemukiman dipindahkan ke pesisir pantai agar mudah diawasi serta terdaftar sebagai wajib pajak (balstin) dan semua pemukiman yang berseberangan di penggunungan dan bukit membangun pemukiman di pesisir pantai.
Ketika Bistir (sekarang camat) mengunjungi negeri-negeri di pesisir pantai mendapat sambutan masyarakat dengan sukacita. Di negeri/Desa Mutel (sesuai nama areal pemukiman), Bistir disambut dengan semangat meriah. Sambutan meriah ini menjadi inspirasi bagi Bistir memberi nama negeri tidak speerti negeri lainnya yang disesuaikan dengan nama pemukiman. Negeri Mutel diberinama Marsela, Mars artinya sukacita, gembira ria dan nama Marsela baru diakui sejak tahun 1917 bersamaan dengan pemberian nama negeri lainnya di Pulau Masela sedangkan Masela adalah nama pulau yang telah diakui sejak abad XVII.
YANG PRO MENGGUNAKAN NAMA MARSELA
Penggunaan nama Marsela untuk menyebut nama pulau sebenarnya di pengaruhi oleh penyebutan nama Negeri Marsela yang setiap kali diucapkan baik oleh masyarakat Negeri Marsela maupun oleh masyarakat di negeri-negeri di Pulau Marsela dan tanpa disadari telah mempengaruhi penamaan nama pulau yang hanya berbeda ada huruf R.
Untuk membedakan antara nama pulau dari nama negeri lalu disebit pulaunya adalah Marsela sedangkan Negeri Marsela disebut Marsela Stat. kondisi ini masih sangat kuat pengaruhnya dalam menyebut nama pulau, sehingga perlu adanya penelitian dan pengkajian lebih dalam lagi soal usul nama pulau dalam rangka penelusuran soal nama pulau dimaksud. Dengan tidak menerima dan menolak nama Masela dan marsela sesuai penelusuran latabelakang sejarah nama pulau seperti diuraikan tersebut tetapi suaru hal yang pasti bahwa nama Masela untuk menyebut nama pulau telah diakui dan diterima oleh negara-negara di dunia karena secara hokum tertera pada peta dunia dan secara ilmu pengetahuan telah dipelajari sejak ratusan trahun bahkan rubuan tahun yang lalu.
Saatnya bagaimana memasyarakatkan pengunaan kata Masela dalam penyebutan nama pulau bagi masyarakat umum khususnya masyarakat dari 11 desa atau negeri yang ada di pulau tersebut. Menjadi tanggung jawab semua pihak terutama para raja atau kepala desa, unsur pemerintahan di kabupaten/kota dan stakeholder lainnya dalam memasyarakatkan nama Masela bagi masyarakat.
sumber : https://groups.yahoo.com/neo/groups/ambon/conversations/messages/56922
Jumat, 18 April 2014
Pulau Masela dulu dan sekarang
Jems Valdano Ulemlem adalah seorang mahasiswa jurusan Sistem Informasi di salah satu Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer di Jogjakarta angkatan 2009. Lahir di Ambon,10 November 1990.Yang Berasal dari salah satu, pulau di MBD yaitu PULAU MASELA (NURA).
Gaya hidup yang nakal, yang di besarkan di dalam keluarga TNI di DenZipur 5 Ambon, dan Kodim 1503 Tual, Maluku Tenggara. membuatnya menjadi orang yang di kenal sebagai pribadi yang sederhana,chuek terhadap suatu hal yang negatif yang dilihatnya.
Saat duduk di bangku SLTP, sudah jatuh hati sama musik dengan genre Metal yakni Avenged Sevenfold.
Tetapi semua kegembiraan itu tidak bertahan lama sejak kepergian seseorang yang sangat menginspirasi dalam hidupnya, dimana pada 29 desember 2009,drummer kesayangannya meniggal dunia ( Jimmy Owen Sulivan or "The Rev" ).
Baginya "The Rev" adalah drummer terbaik dan akan selalu hidup di dalam hati RIP (Jimmy Owen Sulivan or The rev A7X)
Wiil be the last for The Rev
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Letak Geografis Ke Dua pulau Ini Jelas Berbeda Yaitu Letak Pulau MARSELA dan MASELA Sangat Jauh,Pulau MARSELA Yang Berada Di Kawasan Kab.MBD(Maluku Barat Daya) Sedangkan Pulau MASELA Yang Tidak Berpenghuni Terletak Pada Kawasan Maluku Tenggara Barat(MTB) Dan Berada Tepat di Pulau Selaru Kecamatan Selaru Kab.Maluku Tenggara Barat.Sehingga Jelas Kedua Pulau Yang Namanya Mirip Namun Terlatak Pada Dua Kebupaten Yang Yaitu Pulau Marsela Berada Kabupaten MBD dan Pulau MASELA terletak di Wilayah Teretorial MTB.
BalasHapusSalah
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSayang tdk dijelaskan dalam bentuk peta
BalasHapusSy tinggal dipulau tersebut, pulaunya bernama masela, dan nama marsela di pergunakan untuk nama kampung nya.
BalasHapusia benar kak... :D
HapusSaya juga tinggal di desa Marsela Pulau Masela. Memang benar MASELA nama Pulaunya, n MARSELA adalah nama desa yg sy tggal.
BalasHapus