Pages

Selasa, 01 Januari 2013

Pertamina terus kejar kepemilikan Blok Masela

PT Pertamina (Persero) lebih memilih untuk melakukan skema bisnis (business to business/b to b) untuk kepemilikan hak partisipasi (participating interest/PI) di Lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku. Saat ini pemerintah telah memberikan PI sebesar 10 persen kepada Pemerintah Daerah Maluku.

"PI sebesar 10 persen sesuai arahan pemerintah sudah diberikan kepada Pemerintah Daerah Maluku. Kami masih ingin masuk tetapi akhirnya dengan skema bisnis (bussiness to bussiness/ b to b)," kata Direktur Hulu Pertamina Muhammad Husen di Jakarta, Kamis (30/8).

Pertamina juga memutuskan tidak akan mengambil sebagian saham jatah Pemda. Target kepemilikan saham 10 persen di Blok Masela seluruhnya akan diperoleh melalui pembelian saham milik Inpex Corporation. Husen mengaku, pihaknya sudah mengajukan keinginan untuk memiliki saham di blok yang terletak di Laut Arafuru sebesar 10 persen kepada Inpex Corporation sebagai operator blok.

"Kita sudah memulai pembicaraan awal, tapi ini benar-benar baru awal. Saat ini belum ada keputusan apapun dari Inpex. Kami mengharapkan akhir tahun ini semua selesai dan sudah ada keputusan," tambah dia.

Inpex telah bersedia menyerahkan 10 persen saham jatahnya lagi ke BUMD Maluku. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Maluku telah membentuk BUMD PT Maluku Energi. BUMD tersebut membentuk perusahaan patungan, PT Maluku Energi Nusantara dengan perusahaan swasta, PT Masela Energi untuk mengelola 10 persen PI Masela.

Dengan cadangan Lapangan Abadi sebesar 6,05 triliun kaki kubik (TCF) tersebut, dibutuhkan investasi sebesar USD 9-10 milyar untuk mengembangkan Blok Masela. Sesuai rencana pengembangan yang telah disetujui, Inpex Corporation sebagai operator blok akan membangun kilang gas alam cair terapung berkapasitas 2,5 juta ton per tahun. Selain LNG, Lapangan Abadi juga memproduksi kondensat 8.400 barel per hari (bph).

Inpex telah merampungkan desain rinci (front end engineering design/FEED) Lapangan Abadi. Saat ini Inpex tengah merampungkan keputusan investasi akhir (final investment decision/FID) tahun ini juga. Proyek ini diharapkan bisa mulai berproduksi pada 2017.