Pages

Minggu, 20 April 2014

CERITA “IKAN LAYAR” ( UPA RUI ) DARI KEPULAUAN BABAR, WUWLUL LOULI, ILWYAR WAKMYER

Orang Babar ialah kelompok penduduk yang mendiami pulau-pulau di Kepulauan Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya. Kabupaten Maluku Barat Daya dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Maluku Barat Daya di Provinsi Maluku. Secara administratif, Kabupaten Maluku Barat Daya membawahi 8 kecamatan, yaitu:
1.Kecamatan Wetar
2.Kecamatan Pp. Terselatan
3.Kecamatan Letti
4.Kecamatan Moa Lakor
5.Kecamatan Damer
6.Kecamatan Mdona Hiera
7.Kecamatan Pp. Babar dan
8.Kecamatan Babar Timur

Kepulauan Babar terbagi atas dua wilayah adat, yaitu wilayah adat wuwlul louli dan wilayah adat ilwyar wakmyer. Berdasarkan penggunaan bahasa yang variatif 2,penyebutan dua wilayah adat ini pun agak berbeda. Orang Wetang menyebut wuwluli louli ilwiar watmier.Wuwlul louli atau wuwluli louli (selanjutnya ditulis WL) diartikan sebagai ‘yang lebih dahulu atau yang pertama’. Pengertian ini berkaitan erat dengan kata nwuwi dan kata nloa.Nwuwi artinya ‘timbul’ dan nloa artinya ‘menyusur’. Makna pengertian ini tercermin pada sejarah wuwluli louli.Ilwyar wakmyer atau ilwiar watmier (selanjutnya ditulis IW) berarti ‘daerah pasir putih dan batu merah’.Ilwiar berasal dari kata il yang berarti ‘pasir’ dan war berarti ‘putih’.Watmier berasal dari kata wat yang artinya ‘batu’ dan mer yang berarti ‘merah’. Karena itu,ilwiar watmier diartikan ‘daerah pasir putih dan batu merah. Masyarakat yang berada di lingkup wilayah adat WL adalah masyarakat yang mendiami Pulau Wetan, Pulau Sermata, Pulau Luang,Pulau Dai, dan beberapa desa Pulau Babar,yaitu: Tepa, Waitota, Letziara, Watrupun,Manuwui, dan Yaltubung. Masyarakat yang berada di wilayah adat IW adalah masyarakat yang mendiami Pulau Marsela, Pulau Dawelor, Pulau Dawera, dan beberapa dusun/desa di Pulau Babar, yaitu: Ilwiara,Nakarhamto, Yatoke, Koroing, Letwurung, Kokwari, Wakpapapi, Ahanari, Tela, dan Imroing.Sejarah terbentuknya wilayah WL dan IW terlihat dalam cerita tentang penghancuran sebagian pulau-pulau di Maluku Tenggara oleh seekor ikan layar besar,yang lazim dikenal sebagai upa rui. Kata upaberarti ‘tete/kakek’, tetapi dapat juga berarti Tuhan seperti tampak dalam kata upulera.Lera berarti matahari. Jadi,upulera berarti Tuhan Matahari. Sapaan ini menunjuk kepada keyakinan tentang adanya Tuhan yang dipersonifikasikan ke dalam benda-benda alam. Kata upu berhubungan juga dengan sapaan kepada nenek moyang, seperti upamemi artinya ‘nenek moyang’.Rui adalah ikan layar besar yang dipandang sebagai representasi dari Upa.

Cerita UR ini juga berkaitan dengan struktur alam gaib yang terdapat dalam alam pikiran masyarakat pulau-pulau Babar.Menurut Romuty (1967:18), struktur alam gaib masyarakat pulau-pulau Babar terdiri dari lingkungan alam dewa-dewa,lingkungan roh-roh orang mati,lingkungan roh-roh halus, dan kekuatan-kekuatan gaib. Lingkungan alam dewa-dewa itu terdiri dari Upler yang berarti Moyang (dewa) Matahari,Lor Wol,yakni Dewa Dwi Tunggal “Matahari-Bulan”,dan Wuli dan Lojtien, yaitu Dewa-dewa Binatang yang biasa disebut dalam lagu-lagu daerah. Dewa-dewa itu berdiam di langit, di tempat yang tinggi. Roh-roh orang mati adalah roh-roh leluhur yang disebut Upe Momi dan roh-roh orang mati lainnya yang termasuk dalam hubungan keluarga disebut mukye moni. Semua roh orang orang mati disebut Mukrom atau Matrom yang berarti ‘orang mati dalam rumah’, ‘Penguasa’,‘Pemilik’, Tuhan’. Jadi, hak dan kekuasaan serta hubungan antara anggota keluarga yang sudah meninggal dan yang masih hidup tidak dibatasi oleh kubur, tetapi tetap abadi.Pada umumnya masyarakat pulau-pulau Babar mengetahui tentang cerita Upa Rui(selanjutnya ditulis UR) ini, tetapi dalam beragam versi. Bahkan cerita ini berkembang dan dikenal di hampir semua wilayah Selatan Daya sekarang Kabupaten Maluku Barat Daya- dengan versinya masing. Beragam versi tersebut terjadi karena sebagaimana masyarakat di Kepulauan Babar tidak memiliki aksara, maka cerita ini sejak dulu terpelihara melalui tradisi lisan yang mengandalkan tuturan. Setiap kelompok di lingkungan masyarakat atau pulaunya memitoskan cerita UR ini walaupun antar mereka sendiri saling menganggap bahwa bagi kelompok lain cerita UR ini hanyalah sebagai legenda atau dongeng.Cerita berbentuk mitos biasanya dihubungkan dengan kejadian alam gaib dengan tokoh-tokoh supranatural, bersifat suci, dan tak diketahui pasti kapan kejadian-nya namun dianggap sebagai fakta.Kajian singkat ini berupaya untuk menelaah beragam versi cerita UR dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengenalan dan pemaknaan terhadap fenomena sejarah asal usul dan terbentuknya pulau-pulau di Kepulauan Babar, serta fenomena budaya yang selama ini masih terus diperbincangkan di kalangan masyarakat Kepulauan Babar.

Ragam Cerita “Ikan Layar”(Upa Rui) Di Kepulauan Babar
Tulisan ini didasarkan pada empat versi cerita UR dari empat pulau di Kepulauan Babar. Tiga cerita diperoleh dalam bentuk teks tertulis, sedangkan satu cerita diperoleh dalam bentuk rekaman lisan.Pertama, cerita UR veris orang Tela (Pulau Babar) yang termuat dalam skripsi berjudul “Arti dan Fungsi Pela di Ilwjar Wakmjer (Pulau-Pulau Babar)” oleh J.N. Romuty (1967: 33-34).Kedua, cerita UR versi orang Wetan yang terdapat dalam buku karangan Desianus Leunupun (2012) berjudul Berteologi dalam Konteks Budaya: suatu Studi tentang Niolilieta di Pulau Wetang Kabupaten Maluku Barat Daya Provinsi Maluku (halaman 37-48).Ketiga, cerita UR versi orang Luang (Pulau Luang) dalam buku Cerita tentang Ikan Upahrui, Legenda dari Pulau Luang-The Tale of the Upahrui Fish, A Legend from Luang Island(halaman 20-31) yang diceritakan dalam bahasa Luang oleh Octovianus Kapasiang,diterjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh Marten M. Reirely, sedangkan terjemahan bahasa Inggris-nya oleh Mark dan Kathy Taber (2008).Keempat, cerita UR versi Uiwily hasil wawancara dengan Bapak Alfret Beay (65 tahun).
1.CeritaUpa Rua dari Kampung Tela, Pulau Babar
Cerita tentang ikan layar dikenal oleh orang Tela sebagai sebuah mite tentang “Kerusakan Pulau Luang”. Dalam cerita tersebut, kerusakan Pulau Luang dilakukan oleh seekor ikan raksasa (ikan layar besar) yang disebut Upu Rua. Orang Tela sendiri menyatakan bahwa jalan cerita tentang mite tersebut pada tiap-tiap kampung agak berlainan. Akan tetapi, garis besarnya sama, yaitu bahwa Pulau Luang itu pada mulanya merupakan sebuah ‘pulau besar’ yang disebut Wo Inne Rajamne, Tutie Noria Riwa Wawne’ yang artinya ‘Tanah Besar’ atau ‘Tanah Ibu dan Bapak’, ‘Pancaran Susu dan Pangkuan Ibu’. Mite ini memiliki kaitan dengan sejarah pembentukan pela dimasyarakat adat Ilwyar Wakmyer. Konon, berdasarkan mite ini terjalin hubungan persaudaraan atau ‘sobat’ di kalangan orang Babar. Secara ringkas, jalan cerita “Kerusakan Pulau Luang” dapat disajikan sebagai berikut.Di sebuah Pulau Besar yang disebut Wo Inne Rajamne, Tutie Noria Riwa Wawne’ tinggallah penduduk yang ramai dan makmur. Namun, suatu ketika datanglah seekor ikan raksasa,Upa Rua,menghancurkan pulau itu dan meninggalkan sisa-sisa atau bagian kecil-kecil, yakni Pulau Luang sekarang beserta beberapa buah pulau karang kecil di sekitarnya. Akibatnya, penghuni ‘pulau besar’ itu lari ke pulau-pulau lain.Untuk pembuktian kebenaran mitos ini,penduduk menunjuk bukti, misalnya ‘mayat’ ikan raksasa itu yang telah menjadi batu dekat Pulau Luang; sebagian Pulau Wetan hampir putus saat ikan itu menguji kesaktiannya; pulau-pulau Leti dan Lakor yang rendah (tidak bergunung)karena hendak tunduk bersembunyi kedalam laut ketika terkejut melihat ikan raksasa itu; anting-anting emas yang hanya tinggal sebelah dan rantai-rantai emas yang terdapat di Tela pada beberapa orang yang diperkirakan berasal dari Luang (‘pulau besar’) adalah biji mata dan usus ikan raksasa tersebut. Bukti lainnya adalah adanya lagu daerah tentang ikan raksasa itu yang masih disimpan oleh para tetua adat di Kampung Tela. Lagunya berbunyi demikian: Ruy, Todak
Ruy lor, molore yoyr Todak laut, ke laut
Molor, ruy lor, molore yoyr Ke laut, todak laut, ke laut
Moyapy nanamu na dai kuli, Namamu tinggi mulia.

2.Cerita Upa Rui dari Pulau Wetan
Masyarakat Pulau Wetan termasuk dalam masyarakat adat wuwlul louli. Kisah tentang sejarah wuwluli louli dikemas dalam mitos tentang penghancuran sebagian pulau pulau di Maluku Tenggara termasuk Maluku Barat Daya oleh seekor ikan layar besar, yang lazim dikenal sebagai Upa Rui. Kata upa berarti ‘tete/kakek’, tetapi dapat juga berarti Tuhan seperti tampak dalam kata Upulera. Lera berarti matahari.Jadi,Upulera artinya ‘Tuhan Matahari’. Sapaan ini menunjuk kepada keyakinan tentang adanya Tuhan yang dipersonifikasikan ke dalam benda-benda alam. Kata Upu berhubungan juga dengan sapaan kepada nenek moyang, seperti Upamemi artinya ‘nenek moyang’. Rui adalah ikan layar besar yang dipandang sebagai representasi dari Upa (Leunupun, 2012). Ringkasan cerita UP versi orang Wetan disajikan sebagai berikut.Dikisahkan bahwa ada dua bersa udara kakak beradik bernama Lewanra dan Lewanlora bersama dengan Patraimarna, yang adalah istri Lewanlora. Mereka mengadakan perjalanan ke arah Timur.Perbekalan mereka adalah buah kelapa disertai sebuah alat berbentuk desel yang oleh orang Wetan disebut pranna. Pranna berbentuk cangkul dalam ukuran kecil yang biasanya dipakai untuk membersihkan menara rumah atau perahu. Menurut tuturan, ketika sedang dalam perjalanan, Patraimarna merasa haus sehingga untuk menghilangkan rasa hausnya, buah kelapa yang dibawa itu harus dilubangi agar airnya dapat diminum. Namun,sementara buah kelapa itu dilubangi, tanpa sengaja alat itu jatuh ke dasar laut.Lewanra menyuruh adiknya Lewanlora mencari alat tersebut ke dasar laut.Sebelum turun, Lewanlora membuka tempat sirihnya dan mengambil batu api yang oleh orang Wetang disebut watdiadiaini. Watdiadiaini itu dipakai untuk membuat perjanjian dengan Lewanra dan Patraimarna istrinya. Isi perjanjian itu adalah jika watdiadiaini ini dilemparkan di depan perahu dan tenggelam, itu pertanda bahwa,Lewanlora tidak akan kembali, tapi jika watdiadiaini ini timbul, itu pertanda ia akan segera kembali. Lewanlora juga mengingatkan Lewanra untuk menjaga istrinya sampai ia kembali. Setelah itu, Lewanlora langsung menerjunkan dirinya ke dasar laut.Ketika di dasar laut, tanpa diduga,Lewanlora sedang berdiri di atas lutur (pagar batu). Dari atas pagar batu itu, Lewanlora melihat ada seorang nenek yang sedang menenun. Nenek itu bernama Watokralma . Lewanlora kemudian bertanya kepada Watokralma, apakah nenek tidak melihat atau mendengar ada sesuatu benda yang jatuh di sini? Watokralma menjawab, “Coba anda lihat sendiri dirorok itu karena saya dengar ada sesuatu jatuh di sana.” Ketika Lewanlora menengok ke dalam rorok tersebut, ternyata benar seperti yang dikatakan Watokralma. Lewanlora mengambil benda tersebut dan selanjutnya memohon kepada Watokralma bahwa ia bermaksud pulang, tetapi tidak mengetahui jalan. Akhirnya datanglah seekor ikan layar besar yang oleh orang Wetang disebut rui lawna. Rui lawna itulah yang dimaksudkan dengan upa rui. Upa rui menyatakan kesediaannya untuk mengantarkan Lewanlora, tetapi harus menunggu tujuh hari lagi. Tujuh hari kemudian, datanglah upa rui sesuai dengan janjinya dan mereka berdua pun berangkat menjuju ke Timur.Upa Rui mengingatkan Lewanlora agar jangan membuka mata sebelum ada perintah dari upa rui. Setelah tiba di sekitar Pulau Eno,upa rui memerintahkan Lewanlora membuka matanya. Selanjutnya upa rui bertanya kepada Lewanlora, “Ke arah manakah harus kita tuju?” Lewanlora menjawab, “Ke arah Timur.” Maksudnya adalah ke arah Timur untuk mencari dan menemukan Lewanra serta Patraimarna.Mereka (upa rui dan Lewanlora) kemudian menuju ke arah Timur dan tiba di Pulau Aru, tetapi ternyata tidak menemukan Lewanra dan Patraimarna. Kenyatan itu membuat upa rui menjadi geram dan menghancurkan Pulau Aru. Dari Pulau Aru perjalanan diteruskan ke Pulau Tanimbar, tetapi hasilnya tetap sama sehingga upa rui menghancurkan Pulau Tanimbar dan sekitarnya. Akhirnya, perjalanan diteruskan ke Kepulauan Babar. Ketika tiba di Kepulauan Babar, Pulau Wetang sudah lebih dahulu timbul sehingga tidak dapat dirusakkan. Hal itu tercermin pada kata wuwluli louli yang bermakna ‘terdahulu atau yang pertama’.Karena Pulau Wetang sudah lebih dahulu timbul dan menjadi daratan, maka upa rui hanya menyusuri pulau tersebut yang dalam bahasa Wetan disebut nioa, yang berhubungan dengan kata louli. Kondisi Pulau Wetang yang sudah menjadi daratan dan tidak mungkin dirusakkan, membuat upa rui melompat melewati sebuah daratan rendah sempit yang disebut norletni.Norletni diapit oleh pesisir sebelah menyebelah yang disebut tpionni. Dengan kata lain,norletni diapit oleh tpionni disebelah Timur antara Desa Lekatupun dan Nusiata, serta tpionni di sebelah Barat Desa Nusiata. Menurut tuturan,tpionni itu terbentuk karena amukan upa rui yang menancapkan ekorya di tpionni sebelah Timur kemudian melompat melewati norletni dan jatuh di tpionni sebelah Barat.Selanjutnya, dari Pulau Wetang,upa rui menuju ke Pulau Luang dan mati di sana.Upa rui dibunuh oleh seorang nenek yang bernama Rarialmi dengan ariena atau capa di mulutnya. Sebelum Rarialmi melemparkan ariena yang ada di mulutnya itu kepada upa rui, dia berkata kepada upa rui demikian,“Upe maltarie nodipe ayolie,raydinepe ailiete”yang berarti “Tete, engkau telah memberikan dunia ini untuk aku tempati”dan langsung diikuti dengan lantunan atau nyanyian pantun timur(berbahasa sastra tanah) yang berbunyi demikian:
Upa Rhui Upa Lululy
Yana mpeyatu noha mpunyauw rai
Mualtaru noha pa gholy
Ray pa lyete

(‘Tete yang sakti jangan rusakkan dunia ini, jangan binasakan tanah ini. Biarkan dunia dan tanah ini untuk aku diami/hidup.’)

3. Cerita tentang Ikan Upa rui dari Pulau Luang
Cerita UR dari Luang ini merupakan versi yang paling lengkap di antara empat versi yang disajikan dalam tulisan ini karena telah menjadi satu buku tersendiri dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Luang, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Secara ringkas, versi cerita UP dari Pulau Luang dalam bahasa Indonesia dapat disajikan secara ringkas sebagai berikut.Pada zaman dahulu ada seorang wanita bernama Rarlay dan suaminya bernama Rettiau. Mereka bermarga Wetgai. Kemudian mereka dikaruniai dua anak laki-laki. Yang sulung bernama Rettiau Lay dan yang bungsu bernama Rettiau Ruru. Suatu hari, Rarlay sakit. Ia hanya mau makan hati ikan hiu supaya bisa sembuh. Kedua anaknya disuruh ke tempat perangkap ikan untuk memperoleh ikan hiu dan mengambil hati ikan hiu tersebut. Namun, ketika sudah tertangkap dan yang bungsu pergi mengambil parang, ikan hiu itu berbicara memohon kepada yang sulung untuk tidak membunuhnya. Akhirnya, yang sulung melepaskan ikan hiu itu.Karena tidak membawa pulang hati ikan hiu, ibu mereka marah dan menyuruh ayah mereka membunuh kedua anak tersebut. Sang ayah tidak tega dan akhirnya menyuruh kedua anaknya lari malam itu juga dan ia membuat tipu muslihat dengan memotong dua batang pisang sebagai pengganti kedua anak tersebut. Dalam pelarian, kedua kakak beradik tiba di jalan bercabang. Yang sulung memilih ke jalan sebelah ke kiri, sedangkan si bungsu memilih mengikuti jalan ke kanan. Tidak lama kemudian, yang sulung menemukan orang membuat emas lalu melamar pekerjaan dan diterima di situ, sedangkan yang bungsu mendapati sebuah pohon beringin yang di bawahnya ada sumur. Kemudian seorang nenek datang dari Mnietu untuk menimba air. Yang bungsu melempar nenek dengan buah beringin,Sampai ketiga kali, barulah nenek melihat ke atas dan melihat si bungsu lalu menyuruhnya turun dan tinggal bersamanya. Yang bungsu tumbuh menjadi besar,tapi dia menderita suatu penyakit yang menjijikkan.Pada suatu hari, yang bungsu mendengar tentang kakaknya yang bekerja membuat barang-barang emas. Dia pergi menenui kakaknya, tetapi yang sulung tidak mau mengenalinya lagi.Suatu hari, ada berita mengenai sayembara teka-teki yang diadakan oleh Raja Melai-Watkali (Timor). Pemenang sayembara itu akan dinikahkan dengan salah seorang dari keenam anak perempuannya. Rettiau Lay datang dengan perahunyadan Rettiau Ruru juga menumpang dengan alasan ingin melihat pulau-pulau disana. Namun, akhirnya Rettiau Ruru juga mengikuti sayembara itu berhasil menjawab semua teka-teki yang diberikan sang raja. Rettiau Ruru menang dengan bantuan seekor lalat biru pemberian seorang nenek bernama Puilioi-Romloi.Kemudian Rettiau Ruru memilih anak bungsu Raja Melai-Watkali mereka pun menikah. Sesudah acara pernikahan, Rettiau Ruru beserta istrinya kembali ke Pulau Luang dengan kembali menumpang perahu kakaknya, Rettiau Lay. Anak bungsu raja hanya bisa minum air kelapa muda sehingga mereka membawa bekal beberapa buah kelapa muda.Dalam perjalanan, Rettiau Lay memikirkan rencana jahat untuk merampas istri adiknya. Ia menyuruh anak buah perahu menyembunyikan semua parang dan pisau dan hanya menaruh sebuah kapak yang sudah dilonggarkan supaya ketika digunakan untuk membelah kelapa muda akan mudah terlepas. Saat putri raja haus dan meminta minum air kelapa muda, Retttiau Ruru mengambil kapak tersebut untuk melubangi kelapa muda. Namun, pada waktu mengangkat kapak untuk mulai melubangki kelapa, kapak itu terlepas dan jatuh ke dasar laut. Serta merta kakaknya menyuruh Rettiau Ruru mengambil kapak tersebut dari dasar laut. Dengan berat hati, Rettiau Ruru akhirnya melakukan perintah kakaknya, tapi sebelumnya dia mengambil cincin istrinya dan memakainya. Dia juga mengambil sebuah batu dari dalam perahu dan berseru kepada Tuhan Matahari Besar (Upu Lera) bahwa jika batu yang dibuangnya tenggelam berarti dia telah mati dan tidak kembali lagi, tetapi jika batu itu mengapung berarti dia tetap hidup dan akan dipelihara sampai kembali ke pulau negerinya, yaitu Pulau Luang. Ternyata tiga kali batu itu dibuang oleh Rettiau Ruru, tiap kali pula batu itu mengapung. Lalu ia pun terjun ke dasar laut.Waktu menyelam, ia berada di pucuk sebuah pohon beringin lalu ia turun kebawah. Di situ ia menjumpai seorang nenek sedang menenun. Nenek itu bernama Rarilmietma-Rarlelkialwa. Rettiau Ruru bertanya kepada sang nenek apakah mendengar sesuatu yang jatuh. Nenek itu menjawab, “Cucu, aku tak pernah lihat sesuatu, cuma aku mendengar ada sesuatu yang berbunyi di atas rorok ayam (tempat ayam bertelur). Coba kau tengok, jangan sampai ada di sana sebab ayam sudah turun.” Ternyata benar, ia menjumpai kapak itu ada di dalam rorok ayam. Saat ia hendak pulang, nenek menahannya dan berkata akan memanggil semua ikan untuk menanyakan siapa yang mau mengantarnya pulang. Nenek memanggil ikan duyung, tetapi ikan duyung tidak mau. Berikutnya ikan hiu, tetapi ikan hiu juga tidak mau hanya berkata bahwa dia mendengar ikan layar (todak) bermaksud ke atas. Ketika ikan layar dipanggil, ikan ini bersedia mengantar Rettiau Ruru pulang. Ikan Layar dan Rettiau Ruru mengapung di permukaan laut di antara Pulau Timor dan Pulau Kisar. Ketika timbul di antara kedua pulau tersebut, ikan layar itu menguji kekuatannya terhadap bagian ujung Pulau Timor dan memotong tanjung sehingga terpisah. Tanjung ini disebut Nohmehi. Lalu, ia berbalik ke Pulau Kisar dan pulau itu pun bergoyang sehingga gunung Kisar berada di pinggiran pulau,sedangkan negeri berada ditengah pulau. Lalu mereka ke utara, ke Pulau Roma dan merusakkan sebelah barat pulau itu sehingga Pulau Nohyata terpisah dari Roma. Setelah itu, ikan layar berbalik ke Nohametam dan dihabiskannya Nohamentam kemudian mengenai Maupora dari Roma. Melihat semua ini, Rettiau Ruru menegur ikan layar, “Cukup sudah, bukan pulau ini yang hendak kita tuju. Coba kita ke selatan.”Lalu mereka ke selatan, ke Leti. Tiba diLeti,Rettiau Ruru mengatakan, “Ini juga bukan dia.” Orang Leti yang melihat ikan layar itu takut dan mengatakan, “Jangan rusakkan pulau ini, bila orang dari Luang datang ke sini kami akan memberi mereka makan ikan dan minum sageru (sejenis minuman keras). Oleh sebab itu,orang Leti dinamakan Tun I’ina Kalorni yang artinya ‘kita makan ikan mentah dengan sageru.’ Kemudian keduanya melewati Moa, tapi Rettiau Ruru mengatakan, “Ini juga bukan.” Lalu, mereka ke Lakor. Lakor menjadi takut dan tunduk ke bawah sehingga Lakor tidak memiliki gunung. Rettiau Ruru kemudian menyuruh ke utara, ke Pulau Damar. Di pulau ini, ikan layar pun merusakkannya.Rettiau Ruru menegur ikan layar,“Cukuplah, sebab ini bukan Pulau Luang.” Mereka pun menuju ke selatan. Sementara menuju selatan, Rettiau Ruru mengatakan, “Ini dia pulauku. Kita sudah tiba di Pulau Luang.Berlabuhlah dulu disini dan aku turun menjenguk nenekku.” Pada waktu malam hari, Rettiau Ruru ke rumah neneknya dan setelah berjumpa dia menceritakan apa yang terjadi. Neneknya bercerita bahwa Rettiau Lay sudah kawin dengan istri Rettiau Ruru dan malam itu mereka sedang mengadakan pesta pernikahan. Rettiau Ruru meminta neneknya memakai cincin kawin milik istrinya dan pergi ke tempat pesta untuk berpura-pura mengupas buah parna. Nenek pergi ke sana dan mengikis-ngikis arang buah parna di muka perempuan itu,istri Rettiau Ruru. Ketika perempuan itu melihat cincin yang dikenakan nenek,dia menunduk, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia bersikap seperti itu terus-me nerus sampai tiga kali. Akhirnya nenek pulang dan menceritakan hal ini kepada cucunya. Rettiau Ruru berkata, “Nenek,baiklah aku pergi. Aku pergi dan nanti nenek akan lihat.” Kemudian dia mendatangi ikan layar dan naik ke atas punggung ikan itu. Katanya, “Sekarang ini putuskanlah pulau ini. Rusak porandakanlah pulau ini agar menjadi kecil sehingga tidak akan disebut-sebut lagi namanya. Porak porandakanlah dia.”Ikan layar itu menyuruh Rettiau Ruru memegang erat punggungnya lalu ikan itu pun meloncat. Loncatan pertamanya menghantam Metutun, kemudian Dona, Liakra, lalu menghantam lagi Kpuri, Tiata. Pada waktu itu, Luang bergetar dan berguncang. Orang-orang di pulau itu ketakutan dan mulai mengungsi ke pulau-pulau lain. Mereka meninggalkan Pulau Luang, ada yang pergi ke Pulau Seram, ada yang pergi ke Papua, dan ada yang ke pulau-piulau berdekatan lainnya sehingga kosonglah pulau ini. Neneknya pun menjadi takut. Dia berkata,“Aduh, ini perbuatan cucuku. Nanti dia akan menghancurkan pulau ini jadi lebih baik aku menemui dia.” Nenek itu pun pergi ke Tanjung Gain Tutun. Pada waktu itu, ikan layar sementara meloncat menuju selatan. Saat ikan layar berbalik menghadap ke Tiata untuk memutuskan-nya dan hendak menghantam kembali pulau besar, nenek telah berada di Gain Tutun. Jadi, saat ikan layar hendak berbalik dan menghadap Tiata, nenek pun makan sirih dan memohon dengan mengiba kepada ikan layar itu dengan lagu ratapannya yang berbunyi seperti ini:
Aku bernama dara Surriai, bernama dara Surriai ei. Aku bernama putri Lelriai ne.
Aku bernama dara Surriai, datang berdiri di ujung pasir ei.
Aku bernama putri Lelriai, datang tegak di ujung tanjung ne.
Aku datang tegak di ujung pasir memohon kepada upa srui ei,Aku datang tegak di ujung tanjung mengiba pada anak ikan ne.
Aku memohon kepada upa srui,jangan merusak pulau ei, Aku mengiba kepada anak bulan a, jangan menghancurkan bumi ne,
Jangan merusak pulau, tinggalkan satu tanjung ei, Jangan menghancurkan bumi, tinggalkan satu irisan ne,
Tinggalkan satu tanjung untuk aku tempati ei, Tinggalkan satu irisan untuk aku diami ne
Aku bernama dara Surriai ei, Aku bernama putri Lelriai ne.
Lalu nenek mengeluarkan ampas sirih dari dalam mulutnya dan melemparkannya pada ikan layar itu. Pada saat itu pula, ikan layar itu pun mongering menjadi batu. Nenek itu pun menjadi batu, dan sampai sekarang batu-batu itu masih ada di Gain Tutun sementara menunduk ke bawah

4.Cerita tentang Upa rui dari Dusun Uiwily, Pulau Masela Menurut tuturan Bapak Alfret Beay (65tahun), seorang tokoh adat dari Dusun Uiwily, Desa Nura di Pulau Masela, cerita UR mengisahkan kejadian kedua dalam asal usul persebaran manusia di pulau-pulau Babar. Cerita yang berhubungan dengan kejadian pertama adalah tentang Lotna(bahasa tanah Masela) yang artinya ‘rotan’. Rotan ini menjadi jembatan layang yang menghubungkan Pulau Luang dan Pulau Masela. Menurutnya, orang Luang pun mengakui sejarah Lotna lebih dahulu daripada sejarah Upasrui. Cerita tentang Upasrui yang dituturkan oleh Bapak Alfret Beay dapat disajikan sebagai berikut.Pada zaman dahulu, ketika orang dari Pulau Luang dan Pulau Masela dapat saling mengunjungi karena sudah ada lotna yang menghubungkan kedua pulau tersebut. Sebutan untuk kedua pulau ini adalah Ina Lyona, Ama Maela yang artinya ‘Ibu Luang, Bapak Masela’. Penyebutan ini berhubungan dengan kisah mengenai seorang laki-laki yang beristri dua. Dia kawin dengan perempuan di Luang dan kawin juga dengan perempuan di Masela. Akibat cemburu,lotna diputuskan. Gara-gara cemburu juga, upasrui memotong dan memenggal pulau-pulau di Maluku Barat Daya. Kecemburuan ini dirasakan oleh seorang anak laki-laki karena istrinya diambil oleh kakaknya sendiri . Jadi ketika dia datang dengan menunggang ikan layar dan bertanya kepada neneknya , “Nenek, apa itu?” neneknya menjawab,“Oh, itu pesta tujuh hari tujuh malam.” Ternyata itu pesta pernikahan kakaknya dengan istrinya. Lalu dia balik ke ikan layar. Ikan layar bertanya, “Kita pulang sekarang?” Dia berkata ke ikan layar, “Tunggu dulu”. Lalu dia bercerita kepada ikan layar perihal kakanya yang sudah mengambil istrinya dan sekarang sedang pesta tujuh hari tujuh malam. Kemudian dia minta tolong kepada ikan layar, katanya, “Nenek atau Bapak, tolonglah saya!” Ikan layar lalu menyuruhnya naik dan duduk di atas punggung ikan layar. “Bersiaplah sudah” kata ikan layar kepada anak laki-laki itu. Setelah itu, ikan layar mulai lot (menghantam) dan memotong dan memenggal pulau itu dan juga pulau-pulau di sekitarnya. Ulah upasrui ini terhenti dengan lemparan oleh seorang nenek. Sebelum melempar capa (tembakau), nenek itu menyanyikan sebuah lagu berbahasa daerah,tiarka yang berbunyi seperti berikut ini.
Mkyeriwpa mkyerikyeiki mkyeriwpa mkyerikiyeikye
Myeipa myelereywi myeipa myeleriyeiwe
Mkyeriwpa kyerekyeiki pakyektiane kyuknetiene
myeipa myelereywi myeitaine mlayniyolye
kyektiane kyuneja kyuknetiaine layniwoyrye
Myeinetaine mlayniwyorie Layniyniare limyore
mkyeriwpa kyerikyeiki myeipa myeleraiwie ine

Selesai menyanyikan lagu itu, nenek melemparkan capa ke arah ikan layar. Ketika capa mengenai ikan layar, langsung ikan itu pun mati di bawah (selatan) Luang dan menjadi sebuah pulau.
Keempat versi cerita UR yang disajikan di atas dipandang oleh masyarakat masing-masing sebagai sebuah mite yang berkaitan erat dengan sejarah asal usul leluhur setempat, baik oleh masyarakat adat WL (cerita kedua dan ketiga) maupun oleh masyarakat adat ilwyar wakmyer (cerita pertama dan keempat). Menariknya lagi, setiap cerita senantiasa dikukuhkan dengan lagu berbahasa daerah (bahasa tanah) yang dilantunkan oleh seorang nenek diikuti dengan terbunuhnya ikan layar yang kemudian berubah menjadi batu/pulau. END

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. haha tukar link http://fendi-bt.blogspot.com/

    BalasHapus
  3. SANGAT BAGUS.....BIAR KITA GENERASI BABAR BISA MENGETAHUI ARTI DARI SEBUAH SEJARAH ANAK NEGERI

    BalasHapus