Orang Babar ialah kelompok penduduk yang mendiami pulau-pulau di Kepulauan Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya. Kabupaten Maluku Barat Daya dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Maluku Barat Daya di Provinsi Maluku. Secara administratif, Kabupaten Maluku Barat Daya membawahi 8 kecamatan, yaitu:
1.Kecamatan Wetar
2.Kecamatan Pp. Terselatan
3.Kecamatan Letti
4.Kecamatan Moa Lakor
5.Kecamatan Damer
6.Kecamatan Mdona Hiera
7.Kecamatan Pp. Babar dan
8.Kecamatan Babar Timur
Kepulauan Babar terbagi atas dua wilayah adat, yaitu wilayah adat wuwlul louli dan wilayah adat ilwyar wakmyer. Berdasarkan penggunaan bahasa yang variatif 2,penyebutan dua wilayah adat ini pun agak berbeda. Orang Wetang menyebut wuwluli louli ilwiar watmier.Wuwlul louli atau wuwluli louli (selanjutnya ditulis WL) diartikan sebagai ‘yang lebih dahulu atau yang pertama’. Pengertian ini berkaitan erat dengan kata nwuwi
dan kata nloa.Nwuwi artinya ‘timbul’ dan nloa artinya ‘menyusur’. Makna pengertian ini tercermin pada sejarah wuwluli louli.Ilwyar wakmyer atau ilwiar watmier
(selanjutnya ditulis IW) berarti ‘daerah pasir putih dan batu merah’.Ilwiar berasal dari kata il yang berarti ‘pasir’ dan war berarti ‘putih’.Watmier berasal dari kata
wat yang artinya ‘batu’ dan mer yang berarti ‘merah’. Karena itu,ilwiar watmier diartikan ‘daerah pasir putih dan batu merah. Masyarakat yang berada di lingkup wilayah adat WL adalah masyarakat yang mendiami Pulau Wetan, Pulau Sermata, Pulau Luang,Pulau Dai, dan beberapa desa Pulau Babar,yaitu: Tepa, Waitota, Letziara, Watrupun,Manuwui, dan Yaltubung. Masyarakat yang berada di wilayah adat IW adalah
masyarakat yang mendiami Pulau Marsela, Pulau Dawelor, Pulau Dawera, dan beberapa
dusun/desa di Pulau Babar, yaitu: Ilwiara,Nakarhamto, Yatoke, Koroing, Letwurung,
Kokwari, Wakpapapi, Ahanari, Tela, dan Imroing.Sejarah terbentuknya wilayah WL dan IW terlihat dalam cerita tentang penghancuran sebagian pulau-pulau di Maluku Tenggara oleh seekor ikan layar besar,yang lazim dikenal sebagai upa rui. Kata upaberarti ‘tete/kakek’, tetapi dapat juga berarti Tuhan seperti tampak dalam kata upulera.Lera berarti matahari. Jadi,upulera berarti Tuhan Matahari. Sapaan ini menunjuk kepada keyakinan tentang adanya Tuhan yang dipersonifikasikan ke dalam benda-benda alam. Kata upu berhubungan juga dengan sapaan kepada nenek moyang, seperti upamemi artinya ‘nenek moyang’.Rui adalah ikan layar besar yang dipandang sebagai representasi dari Upa.
Cerita UR ini juga berkaitan dengan struktur alam gaib yang terdapat dalam alam pikiran masyarakat pulau-pulau Babar.Menurut Romuty (1967:18), struktur alam gaib masyarakat pulau-pulau Babar terdiri dari lingkungan alam dewa-dewa,lingkungan roh-roh orang mati,lingkungan roh-roh halus, dan kekuatan-kekuatan gaib. Lingkungan alam dewa-dewa itu terdiri dari Upler yang berarti Moyang (dewa) Matahari,Lor Wol,yakni Dewa Dwi Tunggal “Matahari-Bulan”,dan Wuli dan Lojtien, yaitu Dewa-dewa Binatang yang biasa disebut dalam lagu-lagu daerah. Dewa-dewa itu berdiam di langit, di tempat yang tinggi. Roh-roh orang mati adalah roh-roh leluhur yang disebut Upe Momi dan roh-roh orang mati lainnya yang termasuk dalam hubungan keluarga disebut mukye moni. Semua roh orang orang mati disebut Mukrom atau Matrom yang berarti ‘orang mati dalam rumah’, ‘Penguasa’,‘Pemilik’, Tuhan’. Jadi, hak dan kekuasaan serta hubungan antara anggota keluarga yang sudah meninggal dan yang masih hidup tidak dibatasi oleh kubur, tetapi tetap abadi.Pada umumnya masyarakat pulau-pulau Babar mengetahui tentang cerita Upa Rui(selanjutnya ditulis UR) ini, tetapi dalam beragam versi. Bahkan cerita ini berkembang dan dikenal di hampir semua wilayah Selatan Daya sekarang Kabupaten Maluku Barat Daya- dengan versinya masing. Beragam versi tersebut terjadi karena sebagaimana masyarakat di Kepulauan Babar tidak memiliki aksara, maka cerita ini sejak dulu terpelihara melalui tradisi lisan yang mengandalkan tuturan. Setiap kelompok di lingkungan masyarakat atau pulaunya memitoskan cerita UR ini walaupun antar mereka sendiri saling menganggap bahwa bagi kelompok lain cerita UR ini hanyalah sebagai legenda atau dongeng.Cerita berbentuk mitos biasanya dihubungkan dengan kejadian alam gaib dengan tokoh-tokoh supranatural, bersifat suci, dan tak diketahui pasti kapan kejadian-nya namun dianggap sebagai fakta.Kajian singkat ini berupaya untuk menelaah beragam versi cerita UR dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengenalan dan pemaknaan terhadap fenomena sejarah asal usul dan terbentuknya pulau-pulau di Kepulauan Babar, serta fenomena budaya yang selama ini masih terus diperbincangkan di kalangan masyarakat Kepulauan Babar.
Ragam Cerita “Ikan Layar”(Upa Rui) Di Kepulauan Babar
Tulisan ini didasarkan pada empat versi cerita UR dari empat pulau di Kepulauan Babar. Tiga cerita diperoleh dalam bentuk teks tertulis, sedangkan satu cerita
diperoleh dalam bentuk rekaman lisan.Pertama, cerita UR veris orang Tela (Pulau
Babar) yang termuat dalam skripsi berjudul “Arti dan Fungsi Pela di Ilwjar Wakmjer
(Pulau-Pulau Babar)” oleh J.N. Romuty (1967: 33-34).Kedua, cerita UR versi orang
Wetan yang terdapat dalam buku karangan Desianus Leunupun (2012) berjudul Berteologi dalam Konteks Budaya: suatu Studi tentang Niolilieta di Pulau Wetang
Kabupaten Maluku Barat Daya Provinsi Maluku (halaman 37-48).Ketiga, cerita UR
versi orang Luang (Pulau Luang) dalam buku Cerita tentang Ikan Upahrui, Legenda
dari Pulau Luang-The Tale of the Upahrui Fish, A Legend from Luang Island(halaman 20-31) yang diceritakan dalam bahasa Luang oleh Octovianus Kapasiang,diterjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh Marten M. Reirely, sedangkan terjemahan bahasa Inggris-nya oleh Mark dan Kathy Taber (2008).Keempat, cerita UR versi Uiwily hasil wawancara dengan Bapak Alfret Beay (65 tahun).
1.CeritaUpa Rua dari Kampung Tela, Pulau Babar
Cerita tentang ikan layar dikenal oleh orang Tela sebagai sebuah mite tentang “Kerusakan Pulau Luang”. Dalam cerita tersebut, kerusakan Pulau Luang dilakukan
oleh seekor ikan raksasa (ikan layar besar) yang disebut Upu Rua. Orang Tela sendiri
menyatakan bahwa jalan cerita tentang mite tersebut pada tiap-tiap kampung agak
berlainan. Akan tetapi, garis besarnya sama, yaitu bahwa Pulau Luang itu pada mulanya
merupakan sebuah ‘pulau besar’ yang disebut Wo Inne Rajamne, Tutie Noria Riwa Wawne’
yang artinya ‘Tanah Besar’ atau ‘Tanah Ibu dan Bapak’, ‘Pancaran Susu dan Pangkuan Ibu’. Mite ini memiliki kaitan dengan sejarah pembentukan pela dimasyarakat adat
Ilwyar Wakmyer. Konon, berdasarkan mite ini terjalin hubungan persaudaraan atau ‘sobat’ di kalangan orang Babar. Secara ringkas, jalan cerita “Kerusakan Pulau Luang” dapat disajikan sebagai berikut.Di sebuah Pulau Besar yang disebut Wo Inne Rajamne, Tutie Noria Riwa Wawne’ tinggallah penduduk yang ramai dan makmur. Namun, suatu ketika datanglah seekor ikan raksasa,Upa Rua,menghancurkan pulau itu dan meninggalkan sisa-sisa atau bagian kecil-kecil, yakni Pulau Luang sekarang beserta beberapa buah
pulau karang kecil di sekitarnya. Akibatnya, penghuni ‘pulau besar’ itu lari ke
pulau-pulau lain.Untuk pembuktian kebenaran mitos ini,penduduk menunjuk bukti, misalnya ‘mayat’ ikan raksasa itu yang telah menjadi batu dekat Pulau Luang; sebagian
Pulau Wetan hampir putus saat ikan itu menguji kesaktiannya; pulau-pulau Leti dan Lakor yang rendah (tidak bergunung)karena hendak tunduk bersembunyi kedalam laut ketika terkejut melihat ikan raksasa itu; anting-anting emas yang hanya tinggal sebelah dan rantai-rantai emas yang terdapat di Tela pada beberapa orang yang diperkirakan berasal dari Luang (‘pulau besar’) adalah biji mata dan usus ikan raksasa tersebut. Bukti lainnya adalah adanya lagu daerah tentang ikan raksasa itu
yang masih disimpan oleh para tetua adat di Kampung Tela. Lagunya berbunyi demikian:
Ruy, Todak
Ruy lor, molore yoyr Todak laut, ke laut
Molor, ruy lor, molore yoyr Ke laut, todak laut, ke laut
Moyapy nanamu na dai kuli, Namamu tinggi mulia.
2.Cerita Upa Rui dari Pulau Wetan
Masyarakat Pulau Wetan termasuk dalam masyarakat adat wuwlul louli. Kisah tentang sejarah wuwluli louli dikemas dalam mitos tentang penghancuran sebagian pulau pulau di Maluku Tenggara termasuk Maluku Barat Daya oleh seekor ikan layar besar, yang lazim dikenal sebagai Upa Rui. Kata upa berarti ‘tete/kakek’, tetapi dapat juga berarti Tuhan seperti tampak dalam kata Upulera. Lera berarti matahari.Jadi,Upulera
artinya ‘Tuhan Matahari’. Sapaan ini menunjuk kepada keyakinan tentang adanya Tuhan yang dipersonifikasikan ke dalam benda-benda alam. Kata Upu berhubungan juga dengan sapaan kepada nenek moyang, seperti Upamemi artinya ‘nenek moyang’. Rui adalah ikan layar besar yang dipandang sebagai representasi dari Upa (Leunupun, 2012). Ringkasan cerita UP versi orang Wetan disajikan sebagai berikut.Dikisahkan bahwa ada dua bersa
udara kakak beradik bernama Lewanra dan Lewanlora bersama dengan Patraimarna, yang adalah istri Lewanlora. Mereka mengadakan perjalanan ke arah Timur.Perbekalan mereka adalah buah kelapa disertai sebuah alat berbentuk desel yang oleh orang Wetan disebut
pranna. Pranna berbentuk cangkul dalam ukuran kecil yang biasanya dipakai untuk
membersihkan menara rumah atau perahu. Menurut tuturan, ketika sedang dalam perjalanan, Patraimarna merasa haus sehingga untuk menghilangkan rasa hausnya, buah kelapa yang dibawa itu harus dilubangi agar airnya dapat diminum. Namun,sementara buah kelapa itu dilubangi, tanpa sengaja alat itu jatuh ke dasar laut.Lewanra menyuruh adiknya Lewanlora mencari alat tersebut ke dasar laut.Sebelum turun, Lewanlora membuka tempat sirihnya dan mengambil batu api yang oleh orang Wetang disebut watdiadiaini. Watdiadiaini itu dipakai untuk membuat perjanjian dengan Lewanra dan Patraimarna istrinya. Isi perjanjian itu adalah jika watdiadiaini ini dilemparkan di depan perahu dan tenggelam, itu pertanda bahwa,Lewanlora tidak akan kembali, tapi jika watdiadiaini ini timbul, itu pertanda ia akan segera kembali. Lewanlora juga mengingatkan Lewanra untuk menjaga istrinya sampai ia kembali. Setelah
itu, Lewanlora langsung menerjunkan dirinya ke dasar laut.Ketika di dasar laut, tanpa diduga,Lewanlora sedang berdiri di atas lutur (pagar batu). Dari atas pagar batu itu, Lewanlora melihat ada seorang nenek yang sedang menenun. Nenek itu bernama Watokralma
. Lewanlora kemudian bertanya kepada Watokralma, apakah nenek tidak melihat atau mendengar ada sesuatu benda yang jatuh di sini? Watokralma menjawab, “Coba anda lihat sendiri dirorok itu karena saya dengar ada sesuatu jatuh di sana.” Ketika Lewanlora menengok ke dalam rorok tersebut, ternyata benar seperti yang dikatakan Watokralma.
Lewanlora mengambil benda tersebut dan selanjutnya memohon kepada Watokralma bahwa ia bermaksud pulang, tetapi tidak mengetahui jalan. Akhirnya datanglah seekor ikan layar besar yang oleh orang Wetang disebut rui lawna. Rui lawna itulah yang dimaksudkan dengan upa rui. Upa rui menyatakan kesediaannya untuk mengantarkan Lewanlora, tetapi harus menunggu tujuh hari lagi. Tujuh hari kemudian, datanglah upa rui sesuai dengan janjinya dan mereka berdua pun berangkat menjuju ke Timur.Upa Rui mengingatkan Lewanlora agar jangan membuka mata sebelum ada perintah dari upa rui. Setelah tiba di sekitar Pulau Eno,upa rui memerintahkan Lewanlora membuka matanya. Selanjutnya
upa rui bertanya kepada Lewanlora, “Ke arah manakah harus kita tuju?” Lewanlora
menjawab, “Ke arah Timur.” Maksudnya adalah ke arah Timur untuk mencari dan menemukan Lewanra serta Patraimarna.Mereka (upa rui dan Lewanlora) kemudian menuju ke arah Timur dan tiba di Pulau Aru, tetapi ternyata tidak menemukan Lewanra dan Patraimarna. Kenyatan itu membuat upa rui menjadi geram dan menghancurkan Pulau Aru. Dari Pulau Aru
perjalanan diteruskan ke Pulau Tanimbar, tetapi hasilnya tetap sama sehingga upa rui
menghancurkan Pulau Tanimbar dan sekitarnya. Akhirnya, perjalanan diteruskan ke Kepulauan Babar. Ketika tiba di Kepulauan Babar, Pulau Wetang sudah lebih dahulu timbul sehingga tidak dapat dirusakkan. Hal itu tercermin pada kata wuwluli louli
yang bermakna ‘terdahulu atau yang pertama’.Karena Pulau Wetang sudah lebih dahulu timbul dan menjadi daratan, maka upa rui hanya menyusuri pulau tersebut yang dalam bahasa Wetan disebut nioa, yang berhubungan dengan kata louli. Kondisi Pulau Wetang yang sudah menjadi daratan dan tidak mungkin dirusakkan, membuat upa rui melompat melewati sebuah daratan rendah sempit yang disebut norletni.Norletni diapit oleh pesisir sebelah menyebelah yang disebut tpionni. Dengan kata lain,norletni diapit oleh
tpionni disebelah Timur antara Desa Lekatupun dan Nusiata, serta tpionni di sebelah Barat Desa Nusiata. Menurut tuturan,tpionni itu terbentuk karena amukan upa rui
yang menancapkan ekorya di tpionni sebelah Timur kemudian melompat melewati norletni
dan jatuh di tpionni sebelah Barat.Selanjutnya, dari Pulau Wetang,upa rui menuju ke Pulau Luang dan mati di sana.Upa rui dibunuh oleh seorang nenek yang bernama Rarialmi
dengan ariena atau capa di mulutnya. Sebelum Rarialmi melemparkan ariena yang ada di mulutnya itu kepada upa rui, dia berkata kepada upa rui demikian,“Upe maltarie nodipe ayolie,raydinepe ailiete”yang berarti “Tete, engkau telah memberikan dunia ini untuk
aku tempati”dan langsung diikuti dengan lantunan atau nyanyian pantun timur(berbahasa
sastra tanah) yang berbunyi demikian:
Upa Rhui Upa Lululy
Yana mpeyatu noha mpunyauw rai
Mualtaru noha pa gholy
Ray pa lyete
(‘Tete yang sakti jangan rusakkan dunia ini, jangan binasakan tanah ini.
Biarkan dunia dan tanah ini untuk aku diami/hidup.’)
3. Cerita tentang Ikan Upa rui dari Pulau Luang
Cerita UR dari Luang ini merupakan versi yang paling lengkap di antara empat versi yang disajikan dalam tulisan ini karena telah menjadi satu buku tersendiri dalam
tiga bahasa, yaitu bahasa Luang, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Secara ringkas,
versi cerita UP dari Pulau Luang dalam bahasa Indonesia dapat disajikan secara ringkas
sebagai berikut.Pada zaman dahulu ada seorang wanita bernama Rarlay dan suaminya bernama Rettiau. Mereka bermarga Wetgai. Kemudian mereka dikaruniai dua anak laki-laki. Yang sulung bernama Rettiau Lay dan yang bungsu bernama Rettiau Ruru. Suatu
hari, Rarlay sakit. Ia hanya mau makan hati ikan hiu supaya bisa sembuh. Kedua anaknya disuruh ke tempat perangkap ikan untuk memperoleh ikan hiu dan mengambil hati ikan hiu tersebut. Namun, ketika sudah tertangkap dan yang bungsu pergi mengambil parang, ikan hiu itu berbicara memohon kepada yang sulung untuk tidak membunuhnya. Akhirnya, yang sulung melepaskan ikan hiu itu.Karena tidak membawa pulang hati ikan hiu, ibu mereka marah dan menyuruh ayah mereka membunuh kedua anak tersebut. Sang ayah tidak tega dan akhirnya menyuruh kedua anaknya lari malam itu juga dan ia membuat tipu muslihat dengan memotong dua batang pisang sebagai pengganti kedua anak tersebut. Dalam pelarian, kedua kakak beradik tiba di jalan bercabang. Yang sulung memilih ke jalan sebelah ke kiri, sedangkan si bungsu memilih mengikuti jalan ke kanan. Tidak lama kemudian, yang sulung menemukan orang membuat emas lalu
melamar pekerjaan dan diterima di situ, sedangkan yang bungsu mendapati sebuah
pohon beringin yang di bawahnya ada sumur. Kemudian seorang nenek datang dari Mnietu untuk menimba air. Yang bungsu melempar nenek dengan buah beringin,Sampai ketiga kali, barulah nenek melihat ke atas dan melihat si bungsu lalu menyuruhnya turun dan tinggal bersamanya. Yang bungsu tumbuh menjadi besar,tapi dia menderita suatu penyakit yang menjijikkan.Pada suatu hari, yang bungsu mendengar tentang kakaknya yang bekerja membuat barang-barang emas. Dia pergi menenui kakaknya, tetapi yang sulung tidak mau mengenalinya lagi.Suatu hari, ada berita mengenai sayembara
teka-teki yang diadakan oleh Raja Melai-Watkali (Timor). Pemenang sayembara itu akan dinikahkan dengan salah seorang dari keenam anak perempuannya. Rettiau Lay datang dengan perahunyadan Rettiau Ruru juga menumpang dengan alasan ingin melihat pulau-pulau disana. Namun, akhirnya Rettiau Ruru juga mengikuti sayembara itu berhasil
menjawab semua teka-teki yang diberikan sang raja. Rettiau Ruru menang dengan
bantuan seekor lalat biru pemberian seorang nenek bernama Puilioi-Romloi.Kemudian Rettiau Ruru memilih anak bungsu Raja Melai-Watkali mereka pun menikah. Sesudah acara pernikahan, Rettiau Ruru beserta istrinya kembali ke Pulau Luang dengan kembali menumpang perahu kakaknya, Rettiau Lay. Anak bungsu raja hanya bisa minum air kelapa muda sehingga mereka membawa bekal beberapa buah kelapa muda.Dalam perjalanan, Rettiau Lay memikirkan rencana jahat untuk merampas istri adiknya. Ia menyuruh anak buah perahu menyembunyikan semua parang dan pisau dan hanya menaruh sebuah kapak yang
sudah dilonggarkan supaya ketika digunakan untuk membelah kelapa muda akan mudah terlepas. Saat putri raja haus dan meminta minum air kelapa muda, Retttiau Ruru mengambil kapak tersebut untuk melubangi kelapa muda. Namun, pada waktu mengangkat kapak untuk mulai melubangki kelapa, kapak itu terlepas dan jatuh ke dasar laut. Serta merta kakaknya menyuruh Rettiau Ruru mengambil kapak tersebut dari dasar laut.
Dengan berat hati, Rettiau Ruru akhirnya melakukan perintah kakaknya, tapi sebelumnya dia mengambil cincin istrinya dan memakainya. Dia juga mengambil sebuah batu dari dalam perahu dan berseru kepada Tuhan Matahari Besar (Upu Lera) bahwa jika batu yang dibuangnya tenggelam berarti dia telah mati dan tidak kembali lagi, tetapi jika batu itu mengapung berarti dia tetap hidup dan akan dipelihara sampai kembali ke pulau negerinya, yaitu Pulau Luang. Ternyata tiga kali batu itu dibuang oleh Rettiau Ruru, tiap kali pula batu itu mengapung. Lalu ia pun terjun ke dasar laut.Waktu menyelam, ia berada di pucuk sebuah pohon beringin lalu ia turun kebawah. Di situ ia menjumpai seorang nenek sedang menenun. Nenek itu bernama Rarilmietma-Rarlelkialwa. Rettiau Ruru
bertanya kepada sang nenek apakah mendengar sesuatu yang jatuh. Nenek itu menjawab, “Cucu, aku tak pernah lihat sesuatu, cuma aku mendengar ada sesuatu yang berbunyi di atas rorok ayam (tempat ayam bertelur). Coba kau tengok, jangan sampai ada di sana sebab ayam sudah turun.” Ternyata benar, ia menjumpai kapak itu ada di dalam rorok ayam. Saat ia hendak pulang, nenek menahannya dan berkata akan memanggil semua ikan untuk menanyakan siapa yang mau mengantarnya pulang. Nenek memanggil ikan duyung, tetapi ikan duyung tidak mau. Berikutnya ikan hiu, tetapi ikan hiu juga tidak mau hanya berkata bahwa dia mendengar ikan layar (todak) bermaksud ke atas. Ketika ikan layar dipanggil, ikan ini bersedia mengantar Rettiau Ruru pulang. Ikan Layar dan Rettiau Ruru mengapung di permukaan laut di antara Pulau Timor dan Pulau Kisar. Ketika timbul di antara kedua pulau tersebut, ikan layar itu menguji kekuatannya terhadap bagian ujung Pulau Timor dan memotong tanjung sehingga terpisah. Tanjung ini disebut Nohmehi. Lalu, ia berbalik ke Pulau Kisar dan pulau itu pun bergoyang sehingga gunung Kisar berada di pinggiran pulau,sedangkan negeri berada ditengah pulau. Lalu mereka ke utara, ke Pulau Roma dan merusakkan sebelah barat pulau itu
sehingga Pulau Nohyata terpisah dari Roma. Setelah itu, ikan layar berbalik ke Nohametam dan dihabiskannya Nohamentam kemudian mengenai Maupora dari Roma. Melihat semua ini, Rettiau Ruru menegur ikan layar, “Cukup sudah, bukan pulau ini yang hendak kita tuju. Coba kita ke selatan.”Lalu mereka ke selatan, ke Leti. Tiba diLeti,Rettiau Ruru mengatakan, “Ini juga bukan dia.” Orang Leti yang melihat ikan layar itu takut dan mengatakan, “Jangan rusakkan pulau ini, bila orang dari Luang datang ke sini kami akan memberi mereka makan ikan dan minum sageru (sejenis minuman keras). Oleh sebab itu,orang Leti dinamakan Tun I’ina Kalorni yang artinya ‘kita makan ikan mentah
dengan sageru.’ Kemudian keduanya melewati Moa, tapi Rettiau Ruru mengatakan, “Ini juga bukan.” Lalu, mereka ke Lakor. Lakor menjadi takut dan tunduk ke bawah sehingga Lakor tidak memiliki gunung. Rettiau Ruru kemudian menyuruh ke utara, ke Pulau Damar. Di pulau ini, ikan layar pun merusakkannya.Rettiau Ruru menegur ikan layar,“Cukuplah, sebab ini bukan Pulau Luang.” Mereka pun menuju ke selatan. Sementara menuju selatan, Rettiau Ruru mengatakan, “Ini dia pulauku. Kita sudah tiba di Pulau Luang.Berlabuhlah dulu disini dan aku turun menjenguk nenekku.” Pada waktu malam hari, Rettiau Ruru ke
rumah neneknya dan setelah berjumpa dia menceritakan apa yang terjadi. Neneknya bercerita bahwa Rettiau Lay sudah kawin dengan istri Rettiau Ruru dan malam itu mereka sedang mengadakan pesta pernikahan. Rettiau Ruru meminta neneknya memakai cincin kawin milik istrinya dan pergi ke tempat pesta untuk berpura-pura mengupas buah parna. Nenek pergi ke sana dan mengikis-ngikis arang buah parna di muka perempuan itu,istri Rettiau Ruru. Ketika perempuan itu melihat cincin yang dikenakan nenek,dia menunduk, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia bersikap seperti itu terus-me
nerus sampai tiga kali. Akhirnya nenek pulang dan menceritakan hal ini kepada cucunya. Rettiau Ruru berkata, “Nenek,baiklah aku pergi. Aku pergi dan nanti nenek akan lihat.” Kemudian dia mendatangi ikan layar dan naik ke atas punggung ikan itu. Katanya, “Sekarang ini putuskanlah pulau ini. Rusak porandakanlah pulau ini agar menjadi kecil sehingga tidak akan disebut-sebut lagi namanya. Porak porandakanlah dia.”Ikan layar itu menyuruh Rettiau Ruru memegang erat punggungnya lalu ikan itu
pun meloncat. Loncatan pertamanya menghantam Metutun, kemudian Dona, Liakra, lalu menghantam lagi Kpuri, Tiata. Pada waktu itu, Luang bergetar dan berguncang. Orang-orang di pulau itu ketakutan dan mulai mengungsi ke pulau-pulau lain. Mereka meninggalkan Pulau Luang, ada yang pergi ke Pulau Seram, ada yang pergi ke Papua, dan ada yang ke pulau-piulau berdekatan lainnya sehingga kosonglah pulau ini. Neneknya pun menjadi takut. Dia berkata,“Aduh, ini perbuatan cucuku. Nanti dia akan menghancurkan pulau ini jadi lebih baik aku menemui dia.” Nenek itu pun pergi ke Tanjung Gain Tutun. Pada waktu itu, ikan layar sementara meloncat menuju selatan. Saat ikan layar berbalik menghadap ke Tiata untuk memutuskan-nya dan hendak menghantam kembali pulau besar, nenek telah berada di Gain Tutun. Jadi, saat ikan layar hendak berbalik dan menghadap Tiata, nenek pun makan sirih dan memohon dengan mengiba kepada ikan layar itu dengan lagu ratapannya yang berbunyi seperti ini:
Aku bernama dara Surriai, bernama dara Surriai ei.
Aku bernama putri Lelriai ne.
Aku bernama dara Surriai,
datang berdiri di ujung pasir ei.
Aku bernama putri Lelriai,
datang tegak di ujung tanjung ne.
Aku datang tegak di ujung pasir memohon kepada
upa srui ei,Aku datang tegak di ujung tanjung mengiba pada anak ikan ne.
Aku memohon kepada upa srui,jangan merusak pulau ei,
Aku mengiba kepada anak bulan a, jangan menghancurkan bumi ne,
Jangan merusak pulau, tinggalkan satu tanjung ei,
Jangan menghancurkan bumi, tinggalkan satu irisan ne,
Tinggalkan satu tanjung untuk aku tempati ei,
Tinggalkan satu irisan untuk aku diami ne
Aku bernama dara Surriai ei,
Aku bernama putri Lelriai ne.
Lalu nenek mengeluarkan ampas sirih dari dalam mulutnya dan melemparkannya pada ikan layar itu. Pada saat itu pula, ikan layar itu pun mongering menjadi batu. Nenek itu pun menjadi batu, dan sampai sekarang batu-batu itu masih ada di Gain Tutun sementara menunduk ke bawah
4.Cerita tentang Upa rui dari Dusun Uiwily, Pulau Masela
Menurut tuturan Bapak Alfret Beay (65tahun), seorang tokoh adat dari Dusun Uiwily, Desa Nura di Pulau Masela, cerita UR mengisahkan kejadian kedua dalam asal usul persebaran manusia di pulau-pulau Babar. Cerita yang berhubungan dengan kejadian pertama adalah tentang Lotna(bahasa tanah Masela) yang artinya ‘rotan’. Rotan ini menjadi jembatan layang yang menghubungkan Pulau Luang dan Pulau Masela. Menurutnya, orang Luang pun mengakui sejarah Lotna lebih dahulu daripada sejarah Upasrui. Cerita tentang Upasrui yang dituturkan oleh Bapak Alfret Beay dapat disajikan sebagai berikut.Pada zaman dahulu, ketika orang dari Pulau Luang dan Pulau Masela dapat saling
mengunjungi karena sudah ada lotna yang menghubungkan kedua pulau tersebut. Sebutan untuk kedua pulau ini adalah Ina Lyona, Ama Maela yang artinya ‘Ibu Luang, Bapak Masela’. Penyebutan ini berhubungan dengan kisah mengenai seorang laki-laki yang beristri dua. Dia kawin dengan perempuan di Luang dan kawin juga dengan perempuan di Masela. Akibat cemburu,lotna diputuskan. Gara-gara cemburu juga, upasrui memotong dan memenggal pulau-pulau di Maluku Barat Daya. Kecemburuan ini dirasakan oleh seorang anak laki-laki karena istrinya diambil oleh kakaknya sendiri . Jadi ketika dia datang dengan menunggang ikan layar dan bertanya kepada neneknya , “Nenek, apa itu?” neneknya menjawab,“Oh, itu pesta tujuh hari tujuh malam.” Ternyata itu pesta pernikahan kakaknya dengan istrinya. Lalu dia balik ke ikan layar. Ikan layar bertanya, “Kita pulang sekarang?” Dia berkata ke ikan layar, “Tunggu dulu”. Lalu dia bercerita kepada ikan layar perihal kakanya yang sudah mengambil istrinya dan sekarang sedang pesta tujuh hari tujuh malam. Kemudian dia minta tolong kepada ikan layar, katanya, “Nenek atau Bapak, tolonglah saya!” Ikan layar lalu menyuruhnya naik
dan duduk di atas punggung ikan layar. “Bersiaplah sudah” kata ikan layar kepada
anak laki-laki itu. Setelah itu, ikan layar mulai lot (menghantam) dan memotong
dan memenggal pulau itu dan juga pulau-pulau di sekitarnya. Ulah upasrui ini terhenti dengan lemparan oleh seorang nenek. Sebelum melempar capa (tembakau), nenek itu menyanyikan sebuah lagu berbahasa daerah,tiarka yang berbunyi seperti berikut ini.
Mkyeriwpa mkyerikyeiki
mkyeriwpa mkyerikiyeikye
Myeipa myelereywi
myeipa myeleriyeiwe
Mkyeriwpa kyerekyeiki
pakyektiane kyuknetiene
myeipa myelereywi
myeitaine mlayniyolye
kyektiane kyuneja
kyuknetiaine layniwoyrye
Myeinetaine mlayniwyorie
Layniyniare limyore
mkyeriwpa kyerikyeiki
myeipa myeleraiwie ine
Selesai menyanyikan lagu itu, nenek melemparkan capa ke arah ikan layar. Ketika
capa mengenai ikan layar, langsung ikan itu pun mati di bawah (selatan) Luang dan
menjadi sebuah pulau.
Keempat versi cerita UR yang disajikan di atas dipandang oleh masyarakat masing-masing sebagai sebuah mite yang berkaitan erat dengan sejarah asal usul leluhur
setempat, baik oleh masyarakat adat WL (cerita kedua dan ketiga) maupun oleh
masyarakat adat ilwyar wakmyer (cerita pertama dan keempat). Menariknya lagi, setiap
cerita senantiasa dikukuhkan dengan lagu berbahasa daerah (bahasa tanah) yang
dilantunkan oleh seorang nenek diikuti dengan terbunuhnya ikan layar yang kemudian
berubah menjadi batu/pulau. END
Minggu, 20 April 2014
CERITA “IKAN LAYAR” ( UPA RUI ) DARI KEPULAUAN BABAR, WUWLUL LOULI, ILWYAR WAKMYER
Jems Valdano Ulemlem adalah seorang mahasiswa jurusan Sistem Informasi di salah satu Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer di Jogjakarta angkatan 2009. Lahir di Ambon,10 November 1990.Yang Berasal dari salah satu, pulau di MBD yaitu PULAU MASELA (NURA).
Gaya hidup yang nakal, yang di besarkan di dalam keluarga TNI di DenZipur 5 Ambon, dan Kodim 1503 Tual, Maluku Tenggara. membuatnya menjadi orang yang di kenal sebagai pribadi yang sederhana,chuek terhadap suatu hal yang negatif yang dilihatnya.
Saat duduk di bangku SLTP, sudah jatuh hati sama musik dengan genre Metal yakni Avenged Sevenfold.
Tetapi semua kegembiraan itu tidak bertahan lama sejak kepergian seseorang yang sangat menginspirasi dalam hidupnya, dimana pada 29 desember 2009,drummer kesayangannya meniggal dunia ( Jimmy Owen Sulivan or "The Rev" ).
Baginya "The Rev" adalah drummer terbaik dan akan selalu hidup di dalam hati RIP (Jimmy Owen Sulivan or The rev A7X)
Wiil be the last for The Rev
Jumat, 18 April 2014
Pulau Masela dulu dan sekarang
MASELA dan Marsela dua nama yang mempertentangkan nama sebuah pulau di Kecamatan Babar Timur Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang berpenduduk 2279 jiwa yang pada saat dilanda kekeringan, kelaparan, ketertinggalan, mengingat bahkan menyebut nama pulaunya saja hampir terlupakan.
Saat dalam keadaan dilanda pengelolaan sumber gas alam yang akan dieksplorasi 2016 menjadi sumber rebutan khusus Participating Interest (PI) 10 persen. Bersamaan itu pula, orang mempersoalkan nama Pulau Masela dan Marsela. Dari penelusuran sejarahnya, Masela adalah nama pulau sesuai nama nahkoda kapal layar yang menyinggahi pulau yaitu “Masela”.Sedangkan Marsela adalah nama negeri Mutel yang diganti oleh Belanda dengan nama Marsela yaitu negeri yang ada di Pulau Masela.
Orang mendengar Pulau Masela sebagai pulau yang secara geografis terletak di Kecamatan Babar Timur Kabupaten MBD yang memiliki batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan Pulau Dawelor, sebelah timur berbatasan dengan laut Tanimbar dan sebelah selatan berbatasan dengan laut Australia dan sebelah barat berbatasan dengan Pulau Babar dan termasuk gugusan Pulau-Pulau Barat Daya atau disebut pulau terselatan.
Pada mulanya, Pulau Masela merupakan bagian dari Kecamatan Pulau-Pulau Babar dengan ibukota Tepa, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra). Tetapi perjalanan kabupaten ini dimekarkan menjadi Kabupaten Malra dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) dimekarkan lagi menjadi Kabupaten MBD sesuai dengan UU No 31 tahun 2008.
Seiring dengan pemekaran Kabupaten MBD maka terjadi pula pemekaran kecamatan yang ada sehingga saat ini terdapat kecamatan yaitu, Kecamatan Moa Lakor, Kecamatan Damer, Kecamatan Mdona Hyera, Kecamatan Pulau-Pulau Babar, Kecamatan Babar Timur, Kecamatan Wetar, Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan dan Kecamatan Leti.
Pulau Masela semula masuk dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Pulau-Pulau Babar, sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan Babar Timur dan sementara dalam penataan untuk diterapkan sebagai kecamatan yang difinitif dengan 11 desa serta 1 dusun.
Dengan jumlah penduduk 2279 jiwa, sudah saatnya Pulau Masela dapat dimekarkan menjadi kecamatan tersendiri demi memudahkan pelayanan publik, karena letak/jarak antar desa-desa yang ada di Pulau Masela dengan ibukota kecamatan (Letwurung) dapat ditempuh dengan menyeberangi laut kurang dari dua jam dan jika cuaca tidak baik sangat menghambat jalannya pelayanan pada masyarakat.
PRO KONTRA MASELA DAN MARSELA
PULAU Masela sejak dahulu kala kurang mendapat perhatian karena keterisolasian dan letaknya yang berada sebagai salah satu pulau terdepan karena berbatasan dengan benua Australia, tetapi karena potensi sumber daya alam (darat) yang berbatu dan kering serta masyarakatnya yang selalu mengalami kekeringan dan kelaparan akibat gagal panen dan jarang sekali menjadi sumber informasi masyarakat, bahkan tidak jarang sering dijadikan tempat untuk memindahkan guru-guru yang kurang disiplin sebagai bentuk pembinaan.
Karena keterisolasian diatas, turut mempengauhi istilah/nama pulau yang ada saat itu tidak dipermasalahkan atau dipertentangkan khsusus dalam lingkup masyarakat di Pulau Masela maupun dalam lingkup pemerintahan. Tetapi sekarang dengan ditemukannya sumber gas alam diperairan laut lepas pantai yang terkenal dengan nama Blok Masela hampir setiap hari menjadi pembicaraan hangat dikalangan masyarakat maupun melalui media penyiaran pusat dan daerah serta media cetak. Terkait dengan itu, diantara masyarakat di Pulau Masela dan Marsela mulai mempertentangkan soal nama Masela dan Marsela dengan alasan dan pertimbangan masing-masing.
YANG PRO MENGGUNAKAN NAMA MASELA
Penggunaan nama Masela didasarkan pada peristiwa masa lalu yang oleh salah satu tokoh masyarakat Desa Lawawang yang bernama Aris Tiwery menjelaskan, pada abad XVII sebuah kapal layar yang dinagkodai Masela melayari laut Arafura tujuan ke Kepulauan Tanimbar. Kapal layar itu jauh dari pesisir pantai pulau tak bernama yang saat itu dikuasai tiga raja yaitu Ujung Utara Pulau dikuasai Raja Tumela dengan pusat pemerintahan di Pesul Walkey. Tengah Pulau dikuasai Raja Reheyara (Zenna) dengan pusat pemerintahan di Leray dan ujung selatan pulau dikuasai Raja Ziwtyer dengan pusat pemerintahan di Lektay.
Ketika kapal layar hendak melewati pulau, dengan kekuatan gaib (melalui pantun adat/nyerulora) raja Reheyara/Zenna memanggil dan membelokan sauh di Pelabuhan Nomlely. Raja Tumela menyambut nahkoda kapal layar di pesisir pantai dan menyebut diri sebagai penguasa pulau. Nahoda Masela menggelengkan kepala sambil menunjuk ke puncak gunung Leray bahwa ada penguasa pulau akhirnya Rehyara /Zenna ditandu turun gunung menemui nahkoda Masela.
Raja Tumela tetap ngotot sebagai penguasa pulau, akhirnya disepakati raja pertaruhan berdasarkan tradisi/adat dan akhirnya raja Tumela meregang nyawa sebagai bukti bukan penguasa pulau. Pada saat itulah, nahkosa Masela dan raja Rehyara/Zenna mengangkat persahabatan dengan pertukaran cendera mata. Masela menyerahkan satu tongkat emas, bendera dan batu yang bertuliskan VOC sedangkan raja Rehyara/Zenna memberian alat tumbuk sirih (kopkopla). Sebelum berangkat melanjutkan pelayaran ke Kepulauan Tanimbar, nahkoda kapal layar memberi nama bagi pulau yang tak bernama itu sesuai namanya “MASELA”.
Kemudian pada awal abad ke XX, tepatnya pada tahun 1916, terjadi peristiwa Otkuky, mendorong penguasa menata pemerintahan dengan mewajibkan bagi setiap pemukiman dipindahkan ke pesisir pantai agar mudah diawasi serta terdaftar sebagai wajib pajak (balstin) dan semua pemukiman yang berseberangan di penggunungan dan bukit membangun pemukiman di pesisir pantai.
Ketika Bistir (sekarang camat) mengunjungi negeri-negeri di pesisir pantai mendapat sambutan masyarakat dengan sukacita. Di negeri/Desa Mutel (sesuai nama areal pemukiman), Bistir disambut dengan semangat meriah. Sambutan meriah ini menjadi inspirasi bagi Bistir memberi nama negeri tidak speerti negeri lainnya yang disesuaikan dengan nama pemukiman. Negeri Mutel diberinama Marsela, Mars artinya sukacita, gembira ria dan nama Marsela baru diakui sejak tahun 1917 bersamaan dengan pemberian nama negeri lainnya di Pulau Masela sedangkan Masela adalah nama pulau yang telah diakui sejak abad XVII.
YANG PRO MENGGUNAKAN NAMA MARSELA
Penggunaan nama Marsela untuk menyebut nama pulau sebenarnya di pengaruhi oleh penyebutan nama Negeri Marsela yang setiap kali diucapkan baik oleh masyarakat Negeri Marsela maupun oleh masyarakat di negeri-negeri di Pulau Marsela dan tanpa disadari telah mempengaruhi penamaan nama pulau yang hanya berbeda ada huruf R.
Untuk membedakan antara nama pulau dari nama negeri lalu disebit pulaunya adalah Marsela sedangkan Negeri Marsela disebut Marsela Stat. kondisi ini masih sangat kuat pengaruhnya dalam menyebut nama pulau, sehingga perlu adanya penelitian dan pengkajian lebih dalam lagi soal usul nama pulau dalam rangka penelusuran soal nama pulau dimaksud. Dengan tidak menerima dan menolak nama Masela dan marsela sesuai penelusuran latabelakang sejarah nama pulau seperti diuraikan tersebut tetapi suaru hal yang pasti bahwa nama Masela untuk menyebut nama pulau telah diakui dan diterima oleh negara-negara di dunia karena secara hokum tertera pada peta dunia dan secara ilmu pengetahuan telah dipelajari sejak ratusan trahun bahkan rubuan tahun yang lalu.
Saatnya bagaimana memasyarakatkan pengunaan kata Masela dalam penyebutan nama pulau bagi masyarakat umum khususnya masyarakat dari 11 desa atau negeri yang ada di pulau tersebut. Menjadi tanggung jawab semua pihak terutama para raja atau kepala desa, unsur pemerintahan di kabupaten/kota dan stakeholder lainnya dalam memasyarakatkan nama Masela bagi masyarakat.
sumber : https://groups.yahoo.com/neo/groups/ambon/conversations/messages/56922
Saat dalam keadaan dilanda pengelolaan sumber gas alam yang akan dieksplorasi 2016 menjadi sumber rebutan khusus Participating Interest (PI) 10 persen. Bersamaan itu pula, orang mempersoalkan nama Pulau Masela dan Marsela. Dari penelusuran sejarahnya, Masela adalah nama pulau sesuai nama nahkoda kapal layar yang menyinggahi pulau yaitu “Masela”.Sedangkan Marsela adalah nama negeri Mutel yang diganti oleh Belanda dengan nama Marsela yaitu negeri yang ada di Pulau Masela.
Orang mendengar Pulau Masela sebagai pulau yang secara geografis terletak di Kecamatan Babar Timur Kabupaten MBD yang memiliki batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan Pulau Dawelor, sebelah timur berbatasan dengan laut Tanimbar dan sebelah selatan berbatasan dengan laut Australia dan sebelah barat berbatasan dengan Pulau Babar dan termasuk gugusan Pulau-Pulau Barat Daya atau disebut pulau terselatan.
Pada mulanya, Pulau Masela merupakan bagian dari Kecamatan Pulau-Pulau Babar dengan ibukota Tepa, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra). Tetapi perjalanan kabupaten ini dimekarkan menjadi Kabupaten Malra dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) dimekarkan lagi menjadi Kabupaten MBD sesuai dengan UU No 31 tahun 2008.
Seiring dengan pemekaran Kabupaten MBD maka terjadi pula pemekaran kecamatan yang ada sehingga saat ini terdapat kecamatan yaitu, Kecamatan Moa Lakor, Kecamatan Damer, Kecamatan Mdona Hyera, Kecamatan Pulau-Pulau Babar, Kecamatan Babar Timur, Kecamatan Wetar, Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan dan Kecamatan Leti.
Pulau Masela semula masuk dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Pulau-Pulau Babar, sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan Babar Timur dan sementara dalam penataan untuk diterapkan sebagai kecamatan yang difinitif dengan 11 desa serta 1 dusun.
Dengan jumlah penduduk 2279 jiwa, sudah saatnya Pulau Masela dapat dimekarkan menjadi kecamatan tersendiri demi memudahkan pelayanan publik, karena letak/jarak antar desa-desa yang ada di Pulau Masela dengan ibukota kecamatan (Letwurung) dapat ditempuh dengan menyeberangi laut kurang dari dua jam dan jika cuaca tidak baik sangat menghambat jalannya pelayanan pada masyarakat.
PRO KONTRA MASELA DAN MARSELA
PULAU Masela sejak dahulu kala kurang mendapat perhatian karena keterisolasian dan letaknya yang berada sebagai salah satu pulau terdepan karena berbatasan dengan benua Australia, tetapi karena potensi sumber daya alam (darat) yang berbatu dan kering serta masyarakatnya yang selalu mengalami kekeringan dan kelaparan akibat gagal panen dan jarang sekali menjadi sumber informasi masyarakat, bahkan tidak jarang sering dijadikan tempat untuk memindahkan guru-guru yang kurang disiplin sebagai bentuk pembinaan.
Karena keterisolasian diatas, turut mempengauhi istilah/nama pulau yang ada saat itu tidak dipermasalahkan atau dipertentangkan khsusus dalam lingkup masyarakat di Pulau Masela maupun dalam lingkup pemerintahan. Tetapi sekarang dengan ditemukannya sumber gas alam diperairan laut lepas pantai yang terkenal dengan nama Blok Masela hampir setiap hari menjadi pembicaraan hangat dikalangan masyarakat maupun melalui media penyiaran pusat dan daerah serta media cetak. Terkait dengan itu, diantara masyarakat di Pulau Masela dan Marsela mulai mempertentangkan soal nama Masela dan Marsela dengan alasan dan pertimbangan masing-masing.
YANG PRO MENGGUNAKAN NAMA MASELA
Penggunaan nama Masela didasarkan pada peristiwa masa lalu yang oleh salah satu tokoh masyarakat Desa Lawawang yang bernama Aris Tiwery menjelaskan, pada abad XVII sebuah kapal layar yang dinagkodai Masela melayari laut Arafura tujuan ke Kepulauan Tanimbar. Kapal layar itu jauh dari pesisir pantai pulau tak bernama yang saat itu dikuasai tiga raja yaitu Ujung Utara Pulau dikuasai Raja Tumela dengan pusat pemerintahan di Pesul Walkey. Tengah Pulau dikuasai Raja Reheyara (Zenna) dengan pusat pemerintahan di Leray dan ujung selatan pulau dikuasai Raja Ziwtyer dengan pusat pemerintahan di Lektay.
Ketika kapal layar hendak melewati pulau, dengan kekuatan gaib (melalui pantun adat/nyerulora) raja Reheyara/Zenna memanggil dan membelokan sauh di Pelabuhan Nomlely. Raja Tumela menyambut nahkoda kapal layar di pesisir pantai dan menyebut diri sebagai penguasa pulau. Nahoda Masela menggelengkan kepala sambil menunjuk ke puncak gunung Leray bahwa ada penguasa pulau akhirnya Rehyara /Zenna ditandu turun gunung menemui nahkoda Masela.
Raja Tumela tetap ngotot sebagai penguasa pulau, akhirnya disepakati raja pertaruhan berdasarkan tradisi/adat dan akhirnya raja Tumela meregang nyawa sebagai bukti bukan penguasa pulau. Pada saat itulah, nahkosa Masela dan raja Rehyara/Zenna mengangkat persahabatan dengan pertukaran cendera mata. Masela menyerahkan satu tongkat emas, bendera dan batu yang bertuliskan VOC sedangkan raja Rehyara/Zenna memberian alat tumbuk sirih (kopkopla). Sebelum berangkat melanjutkan pelayaran ke Kepulauan Tanimbar, nahkoda kapal layar memberi nama bagi pulau yang tak bernama itu sesuai namanya “MASELA”.
Kemudian pada awal abad ke XX, tepatnya pada tahun 1916, terjadi peristiwa Otkuky, mendorong penguasa menata pemerintahan dengan mewajibkan bagi setiap pemukiman dipindahkan ke pesisir pantai agar mudah diawasi serta terdaftar sebagai wajib pajak (balstin) dan semua pemukiman yang berseberangan di penggunungan dan bukit membangun pemukiman di pesisir pantai.
Ketika Bistir (sekarang camat) mengunjungi negeri-negeri di pesisir pantai mendapat sambutan masyarakat dengan sukacita. Di negeri/Desa Mutel (sesuai nama areal pemukiman), Bistir disambut dengan semangat meriah. Sambutan meriah ini menjadi inspirasi bagi Bistir memberi nama negeri tidak speerti negeri lainnya yang disesuaikan dengan nama pemukiman. Negeri Mutel diberinama Marsela, Mars artinya sukacita, gembira ria dan nama Marsela baru diakui sejak tahun 1917 bersamaan dengan pemberian nama negeri lainnya di Pulau Masela sedangkan Masela adalah nama pulau yang telah diakui sejak abad XVII.
YANG PRO MENGGUNAKAN NAMA MARSELA
Penggunaan nama Marsela untuk menyebut nama pulau sebenarnya di pengaruhi oleh penyebutan nama Negeri Marsela yang setiap kali diucapkan baik oleh masyarakat Negeri Marsela maupun oleh masyarakat di negeri-negeri di Pulau Marsela dan tanpa disadari telah mempengaruhi penamaan nama pulau yang hanya berbeda ada huruf R.
Untuk membedakan antara nama pulau dari nama negeri lalu disebit pulaunya adalah Marsela sedangkan Negeri Marsela disebut Marsela Stat. kondisi ini masih sangat kuat pengaruhnya dalam menyebut nama pulau, sehingga perlu adanya penelitian dan pengkajian lebih dalam lagi soal usul nama pulau dalam rangka penelusuran soal nama pulau dimaksud. Dengan tidak menerima dan menolak nama Masela dan marsela sesuai penelusuran latabelakang sejarah nama pulau seperti diuraikan tersebut tetapi suaru hal yang pasti bahwa nama Masela untuk menyebut nama pulau telah diakui dan diterima oleh negara-negara di dunia karena secara hokum tertera pada peta dunia dan secara ilmu pengetahuan telah dipelajari sejak ratusan trahun bahkan rubuan tahun yang lalu.
Saatnya bagaimana memasyarakatkan pengunaan kata Masela dalam penyebutan nama pulau bagi masyarakat umum khususnya masyarakat dari 11 desa atau negeri yang ada di pulau tersebut. Menjadi tanggung jawab semua pihak terutama para raja atau kepala desa, unsur pemerintahan di kabupaten/kota dan stakeholder lainnya dalam memasyarakatkan nama Masela bagi masyarakat.
sumber : https://groups.yahoo.com/neo/groups/ambon/conversations/messages/56922
Jems Valdano Ulemlem adalah seorang mahasiswa jurusan Sistem Informasi di salah satu Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer di Jogjakarta angkatan 2009. Lahir di Ambon,10 November 1990.Yang Berasal dari salah satu, pulau di MBD yaitu PULAU MASELA (NURA).
Gaya hidup yang nakal, yang di besarkan di dalam keluarga TNI di DenZipur 5 Ambon, dan Kodim 1503 Tual, Maluku Tenggara. membuatnya menjadi orang yang di kenal sebagai pribadi yang sederhana,chuek terhadap suatu hal yang negatif yang dilihatnya.
Saat duduk di bangku SLTP, sudah jatuh hati sama musik dengan genre Metal yakni Avenged Sevenfold.
Tetapi semua kegembiraan itu tidak bertahan lama sejak kepergian seseorang yang sangat menginspirasi dalam hidupnya, dimana pada 29 desember 2009,drummer kesayangannya meniggal dunia ( Jimmy Owen Sulivan or "The Rev" ).
Baginya "The Rev" adalah drummer terbaik dan akan selalu hidup di dalam hati RIP (Jimmy Owen Sulivan or The rev A7X)
Wiil be the last for The Rev
Langganan:
Komentar (Atom)

